Menghadirkan Kesalehan Kaffah

Sering kita menjumpai sekelompok orang yang tekun beribadah, bahkan berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan tidak memiliki respon postif terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya. Seolah-olah Islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Namun sebaliknya kita juga seringkali menjumpai orang-orang Islam yang sangat concern terhadap masalah kemaslahatan ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, suka membantu dan memiliki sikap sosial yang sangat baik akan tetapi kelihatan begitu mengabaikan “Ibadah Pribadinya” atau lebih ektrim lagi dikatakan sebagai penduduk islam indonesia formalitas (islam KTP). Padahal semuanya tahu tentang ( ( حبل من الله hablun minallah dan ( حبل من التاس ) hablun minan nas, dengan kata lain, seorang manusia harus bisa menempatkan diri sebagai unsur individu maupun sebagai unsur sosial, kesalehan bukan semata saleh dihadapan Allah tapi juga saleh dalam bersosial dan bermasyarakat.
Kata ‘kesalehan’ berasal dari bahasa Arab (
صلح shalah) / kebaikan atau (اصلح – ishlah) /memperbaiki, sebagai lawan dari (فسدfasad) /rusak atau (افسدifsad) /merusak. Hamba yang saleh adalah orang-orang yang baik, unggul, dan mampu berbuat baik terhadap sesama serta memperbaiki lingkungan sekitar. Kesalehan adalah suatu tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, serta dilakukan atas kesadaran ketundukan pada ajaran Tuhan, tindakan saleh atau orang sering menyebutnya sebagai amal saleh merupakan hasil keberimanan, pernyataan atau produk dari iman (Percaya kepada Tuhan) seseorang yang dilakukan secara sadar. Terdapat banyak sekali artikel dan tulisan mengungkap adanya dua jenis kesalehan, yaitu kesalehan pribadi/ritual dan kesalehan sosial. Yang kesatu berkaitan dengan ibadah mahdhah, yang mengatur hubungan makhluk dengan Sang Maha Pencipta. Yang kedua berkaitan dengan ibadah mu’amalah yang mengatur hubungan makhluk Allah SWT dengan makhluk lainnya. Sedangkan yang mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya, meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadah seperti sholat dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.
Nabi Muhammad SAW. telah banyak memberikan contoh bagaimana seseorang harus mengeluarkan zakat, bersedekah dan lain sebagainya, itu semua memiliki dasar dan juga tujuan. Sebagai umatnya kita tidak boleh ragu-ragu lagi akan ajaran yang memperlihatkan kedua aspek kesalehan tersebut sekaligus. Dengan kata lain, zakat bagi kaum Muslim merupakan aplikasi Taqwa yaitu kepatuhan untuk berderma di jalan Allah dengan Ikhlas hanya mengharapak ridha dari Allah, inilah sebenarnya kesalehan total yang mencakup “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”. Banyak yang mengatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa religius dan bangsa berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kita membanggakan Pancasila yang memberi posisi penting pada agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam berpidato, para pemimpin dan petinggi negara tidak lupa menyampaikan pesan bernuansa keagamaan. Akan tetapi, kehidupan nyata yang kita hadapi amat bertentangan dengan ekspresi positif itu. Kehidupan kita belakangan ini amat sarat dengan kekerasan, baik yang kolektif maupun perseorangan. Rasa aman warga bangsa mulai terusik. Kita ada pada posisi puncak dalam masalah korupsi. Hukum tidak tegak. Anak muda makin terseret jauh dalam penggunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba). Kemiskinan makin terasa dan makin meluas.

 

Dalam Surah Al Ma’un, Allah berfirman :

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalau saja setiap orang memiliki sikap dan semangat ‘Al-maun’ sebagaimana Firman Allah di atas, bisa jadi kesenjangan dan ketimpangan di negara ini akan terkoreksi dengan keselarasan dan keharmonisan.
Seorang Ahli IT yang melakukan hacking terhadap sebuah sistem informasi yang menyebabkan orang dirugikan adalah salah satu bentuk ke-tidak salehan, akuntan yang melakukan window-dressing terhadap laporan keuangan perusahaan yang sudah jelas bobrok, seorang penegak hukum-petugas kepolisian, kejaksaan, kehakiman-yang ikut dalam mafia peradilan dan lain-lain, semuanya adalah contoh bentuk-bentuk ketidak-profesionalan dalam profesi, hal ini dapat terhindarkan bila kita memiliki dua unsur kesalehan di atas, dalam beberapa tulisan jenis kesalehan ini disebut sebagai kesalehan profesional. Seorang Dosen yang tidak konsisten dengan Kontrak perkuliahan yang diberikan juga bisa dikatakan tidak memiliki kesalehan profesioanal. Pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam mark-up kredit atau proyek-apalagi proyek raksasa seperti kilang minyak dan listrik swasta-pasti tidak saleh secara profesional. Yang terlibat berbagai bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) juga tidak saleh secara profesional. Kalau saja semua individu memiliki kesalehan sebagaiman telah dipaparkan di atas maka bisa dikatakan individu tersebut memiliki kesalehan kaffah, yang menyeluruh. Itulah yang dikehendaki agama Islam. Banyak dijumpai orang dengan kesalehan pribadi dan sosial, tetapi diragukan kesalehan profesionalnya. Orang seperti ini seakan memiliki semacam keterbelahan pribadi. Mereka seperti mengumpulkan pahala (dari ritual dan ibadah sosial) untuk menutupi dosa akibat ketidaksalehan profesional. Kesalehan profesional sebenarnya adalah profesionalisme atau kemampuan bekerja dengan baik sesuai aturan dan hukum yang berlaku serta etika kerja universal. Ketidaksalehan profesional ada yang karena ketidaksengajaan, tetapi ada juga yang identik dengan kejahatan. Yang identik dengan kejahatan, tidak akan dapat kita hilangkan hanya dengan dakwah atau imbauan namun perlu sanksi (proses) peradilan. Semua berpulang pada tiap individu dalam mempertajam kepekaan perasaan, dan menumbuhkan kesalehan profesional yang secara fitrah, bibitnya sebenarnya sudah ada dalam diri mereka.

Wallaahu a’lam bis-shawab bi muradih

 

 

 

 

 

Published by

Muhammad Khosyi'in

Bismillah... untuk segala jalan menuju kebaikan...

3 thoughts on “Menghadirkan Kesalehan Kaffah”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *